Pencarian
Bahasa Indonesia
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
Judul
Naskah
Berikutnya
 

Dari Kota Suci ke Bumi Suci: Acharya Udayvallabh Maharaj (vegetarian) bersama Larangan Daging Insan-Hewan di Palitana, Bagian 2 dari 2

Details
Unduh Docx
Baca Lebih Lajut
Protes dipimpin para biksu Jain – yang menganggap konsumsi dan penyembelihan insan-hewan melanggar prinsip non-kekerasan – dimulai pada awal tahun 2010-an. Awalnya, mereka menargetkan sekitar 250 toko daging di dekat kuil-kuil suci. Pada tahun 2014, gerakan ini semakin intensif ketika hampir 200 biksu Jain melakukan mogok makan bersama, yang menarik perhatian media nasional secara luas dan dukungan publik yang kuat. Hal ini, pada gilirannya, mendorong intervensi dari pemerintah negara bagian Gujarat dan pemerintah kota Palitana. Para biksu menuntut penutupan toko-toko daging, larangan penyembelihan, dan diterapkannya vegetarianisme untuk menjaga kemurnian situs ziarah itu.

Pada Agustus 2014, Dewan Kota Palitana menerapkan larangan itu. Kemudian, pada Februari 2015, pihak berwenang mengeluarkan perintah resmi untuk menutup toko-toko daging dan melarang penjualan daging serta telur insan- hewan, serta penyembelihan insan-hewan, dengan sanksi yang akan dijatuhkan bagi pelanggar. Keputusan tersebut secara eksplisit menyebutkan “penghormatan terhadap perasaan komunitas Jain”.

Larangan Palitana terhadap makanan non-vegetarian merupakan hasil langsung dari aktivisme Jain akar rumput. Kampanye tanpa kekerasan ini menunjukkan bagaimana upaya yang terinspirasi oleh keyakinan dapat memengaruhi kebijakan publik di India – dan berpotensi melampaui hal itu. Sejak saat itu, Palitana diakui sebagai kota vegetarian pertama di dunia.

Biksu Jain terhormat, Jainacharya Shri Uday Vallabh Suriji (vegetarian) dari Palitana, melanjutkan membagikan alasan di balik peraturan larangan makanan non-vegetarian, yang didukung oleh ilmu pengetahuan modern.

Saya dapat merekomendasikan “Teori BIS”, yang juga dikenal sebagai “Teori Bajaj, Ibrahim, dan Singh (BIS)” atau “teori gelombang rasa sakit”. Teori ini dijelaskan secara rinci dalam buku mereka, “Etologi dari Gempa Bumi: Pendekatan Baru”, yang diterbitkan pada tahun 1995. Prinsip intinya menunjukkan bahwa bencana alam tidak semata-mata disebabkan oleh proses geologis, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor biologis dan getaran. Ketika kita menyembelih makhluk hidup apa pun, atau ketika penyembelihan terjadi, jeritan yang keluar dari mulut makhluk itu, getaran hebat yang terjadi pada tubuhnya, dan rasa sakit yang luar biasa yang dialaminya melepaskan gelombang tertentu, yang dikenal sebagai Gelombang Rasa Sakit Einsteinian (EPW). Dan gelombang yang dilepaskan ini, melalui dampaknya dan getarannya, menyebabkan batuan di bawah permukaan bergetar, dan inilah alasan utama terjadinya gempa bumi. Mereka telah memperluas teori ini untuk menunjukkan bahwa dampaknya bisa melampaui batas negara, dengan menyatakan bahwa jika sebuah rumah potong hewan terletak dalam jarak 200 hingga 300 kilometer dari perbatasan suatu negara, maka dampaknya dapat menyebar ke negara tetangga juga. Teori semacam itu bahkan telah dirumuskan. Intinya, ada banyak ideologi dan perspektif saat ini yang memberikan bukti kuat dan dukungan bagi pandangan bahwa pembunuhan massal atau penyembelihan harus dihentikan, dan itu harus diakhiri.

Acharya Udayvallabh Maharaj juga merekomendasikan untuk merangkul non-absolutisme guna memperoleh pandangan yang lebih inklusif dan membangun harmoni. “Harmoni” ada di inti Jainisme untuk kebahagiaan sejati.

Bisa saya katakan bahwa hidup tanpa menimbulkan kerusakan pada jiwa sendiri, tubuh dan pikiran makhluk lain, atau alam secara keseluruhan – itulah Jainisme.

Apa yang dijelaskan oleh Acharya Udayvallabh Maharaj – gagasan bahwa alam memiliki jiwa dan bahwa gelombang rasa sakit berdampak negatif – sangat selaras dengan kebenaran yang dibagikan melalui kisah-kisah lembut dari Yang Terkasih Maha Guru Ching Hai (vegan). “Teori gelombang rasa sakit” juga sejalan dengan pemahaman ini. Maha Guru Ching Hai bahkan dapat merasakan rasa sakit halus yang dialami tanaman saat panen. Karena alasan ini, Guru telah menyusun daftar makanan yang menyakitkan dan tidak menyakitkan.

Seruan Acharya Udayvallabh Maharaj untuk mengakhiri kekerasan di seluruh dunia adalah apa yang kita butuhkan.

Kita harus mundur dari siklus pembunuhan ini. Dan bukan hanya di Palitana, bukan hanya di Gujarat, bukan hanya di India, tetapi di mana-mana. Biarlah gerakan non-kekerasan menyebar, dan biarlah gelombang kekerasan berhenti.

Kami sepenuhnya setuju, Acharya Udayvallabh Maharaj. Bumi itu sendiri harus disucikan – sama seperti Kota Palitana.
Tonton Lebih Banyak
Semua bagian (2/2)
Tonton Lebih Banyak
Video Terbaru
Perjalanan Melalui Alam Estetis
2026-05-19
857 Tampilan
Veganisme: Cara Hidup Mulia
2026-05-19
456 Tampilan
Antara Guru dan Murid
2026-05-19
1669 Tampilan
36:40
Berita Patut Disimak
2026-05-18
617 Tampilan
Antara Guru dan Murid
2026-05-18
1803 Tampilan
Bagikan
Bagikan ke
Lampirkan
Mulai pada
Unduh
Mobile
Mobile
iPhone
Android
Tonton di peramban seluler
GO
GO
Aplikasi
Pindai kode QR, atau pilih sistem telepon yang tepat untuk mengunduh
iPhone
Android
Prompt
OK
Unduh